Sunday, October 27, 2013
Thursday, October 3, 2013
Tuesday, September 17, 2013
Monday, February 25, 2013
Thursday, February 7, 2013
Thursday, January 17, 2013
Reog Edition
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Sejarah
Pertunjukan reog di Ponorogo tahun 1920. Selain reog,
terdapat pula penari kuda kepang dan bujangganong.
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang
di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang
paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Putu, seorang abdi kerajaan pada masa
Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki
Ageng Putu murka akan pengaruh kuat dari
pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun
melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan
sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela
diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak
muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.
Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan
politis Ki Ageng Putu
disampaikan melalui pertunjukan seni Reog,
yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran
Reog menjadi cara Ki Ageng Putu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan
kepopuleran Reog.
Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi
penutup.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala
singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, yang menjadi simbol
untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai
kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur
dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari
gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan
Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada
dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Putu, sendirian dan menopang berat
topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan
giginya. Populernya Reog Ki Ageng Putu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan
menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan
perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid
Ki Ageng Putu
tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya
sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan
populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana
ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono
Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita
tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning,
namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan
Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan
Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganong, dikawal oleh warok (pria
berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan.
Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan
Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan
‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang
menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam
pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya
aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun
menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya
tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan
Parental dan hukum adat yang masih berlaku.
local history
SEJARAH
GUNUNG SINDEN PERAWAN
Terletak di
Dusun Jambu desa Jeruk Kec. Bandar Kab. Pacitan, terdapat sebuah tempat yang
berbentuk sebuah Gunung. Pada tahun ± 1913, gunung ini di jadikan sebagai tempat
pemujaan, tepatnya di puncak gunung. Pada saat itu penduduk setempat meyakini
bahwa tempat tersebut bisa mengabulkan permohonan seseorang. Kemudian pada saat
itu juga banyak masyarakat yang berbondong-bondong menuju tempat ini untuk
melakukan ritual pemujaan, bahkan ada dari golongan bangsawan yang mendatangi
tempat ini. Dalam ritual ini, penduduk di haruskan membawa sejumlah peralatan
yang akan digunakan untuk sesaji, perlengkapan sesaji tersebut terdiri dari:
1.Tumpeng
yang terbuat dari nasi putih yang dicampur dengan air kunyit, sehingga
tumpeng tersebut berwarna kuning.
2. Ayam panggang
1 buah.
3. bunga 7 rupa,
4. sebuah
kemenyan,
5. uang receh
satu buah.
Proses berjalannya ritual :
1.
Tumpeng
diletakkan dibawah pohon dengan disertai pembakaran kemenyan sambil berdoa.
2.
Kemudian bunga 7
rupa tersebut dengan uang receh dimasukkan kedalam danau tersebut.
3.
Kemudian setelah
sesaji masuk ke dalam air danau, air bisa diambil dan diminum.
Kondisi tempat dari gunung tersebut
termasuk tinggi, bentuknya menyerupai tempurung kelapa
dengan luas ±10meter².
Gunung tersebut terdapat dengan banyak semak dan satu pohon beringin tua
yang terletak di tepi kubah yang
tingginya mencapai ± 5 meter. Pohon itu digunakan untuk menempatkan sesaji
dan tempat meminta berkah kepada sang kuasa. Biasanya hari yang baik untuk
meminta berkah konon pada hari selasa kliwon wuku landep. Tempat ini hanya berupa sebuah pohon beringin
yang terletak disamping dan ditengahnya terdapat kubah yang luasnya
sekitar lima meter. Dengan kedalaman ± 100 meter.
Masyarakat disini terus meyakini
dikenal sebagai tempat pemujaan selama kurang lebih dua puluh tujuh tahun.
Pada tahun 1940 seorang ulama atau tokoh agama yang
bernama ki ageng Haryodiningrat yang berasal dari Tengger Probolinggo Jawa Timur,
beliau datang ke tempat ini dengan
tujuan untuk menemui
istrnya yang kebetulan istrinya berada di desa ini. Karena ulama tersebut
mengetahui bahwa didesa ini ada tempat pemujaan, maka ki ageng Maru Boyo
mendatangi tetua yang menjadi Juru Kunci dari tempat pemujaan tersebut. Ia menanyakan
tentang apa kegunaan dari ritual tersebut dan mengapa ditempatkan di gunung
tersebut. Kemudian juru kunci menerangkan bahwa gunung tersebut berguna untuk
keselamatan desa dan penduduknya. Konon kubah/danau yang ada di gunung itu
merupakan tempat raksasa mandi pada setiap malam
Jum’at Wage dengan Wuku “Kuningan”.
Raksasa tersebut sering mandi di kubah/danau tiga warna yang berada di
puncak gunung Sinden Perawan. Yang
berwarna putih kehijauan sering digunakan saat raksasa tersebut masih perjaka.
Kemudian yang berwarna hijau tua digunakan raksasa pada saat raksasa tersebut
sudah memiliki istri. Sedangkan yang berwarna biru digunakan raksasa pada saat
raksasa sudah menjadi duda.
Konon ketiga air warna tersebut memiliki khasiat yang
berbeda. air tersebut diyakini sebagai berkah yang maha kuasa dan sering
dipakai orang. Warna biru untu kemulyaan, putih kehijauan untuk penyembuhan
penyakit, sedangkan untuk hijau tua untuk kekayaan dunia.
Ki ageng Haryodiningrat tidak percaya dengan hal itu, maka ia segera
merobohkan pohon tersebut dan menimbunkannya kubah/danau tersebut. Sehari kemudian kubah itu mengeluarkan air
yang sangat besar hingga menggenangi desa. Masyarakat mengungsi dan berbondong-bondong ke
atas bukit cagaran yang letaknya disebelah selatan gunung Sinden Perawan. Ki ageng Haryodiningrat juga pergi ke Bukit Cagaran. Pada malam pertama
setelah mengungsi, Ki ageng
bermimpi bahwa,
jika penduduk ingin air dari kawah/kubah itu berhenti mengeluarkan
air, maka mereka harus menyerahkan tumbal berupa sinden
perawan dan kambing kendit.
Tak lama kemudian, masyarakat memenuhi tumbal itu
yang kebetulan di desa ini terdapat Perawan dan kambing kendit, yang kemudian
Kepala desa memohon kepada anak perawan ini unuk berkorban demi desa . Maka
sinden itu mati beserta kambing yang dibawanya masuk kedalam danau. Air surut dalam waktu ±5
jam setelsh tumbal di masukkan kedalam danau. Dari cerita tersebut penduduk menamai gunung tersebut dengan nama Gunung Sinden Perawan. Nama
ini di ambil dari nama tumbal tersebut. Setelah kejadian tersebut, akhirnya
kembali ke desa dan menata kembali desa ini dan beraktivitas seperti dulu kala,
namun sudah tidak ada lagi penduduk yang melakukan rital ke gunung Sinden
Perawan, karena Ki Ageng Haryodiningrat telah memberikan penyuluhan kepada
semua warga dan warga pun percaya kepada beliau.
ilmu budaya dasar
Sinopsis
Teletak
di Desa Jeruk Kab. Pacitan, terlahir sebuah Upacara adat yang disebut “Mitoni”,Upacara
adat Mitoni berasal dari kata pitu
yang berarti tujuh. Mitoni merupakan
upacara adat untuk memperingati usia kandungan bagi ibu hamil yang telah
menginjak usia tujuh bulan. Upacara adat Mitoni merupakan bentuk sarana
sosialisasi bagi warga masyarakat tradisional khususnya. Penyelenggaraan
upacara itu penting bagi pembinaan sosial budaya bagi warga masyarakat yang
bersangkutan. Masyarakat Jawa percaya bahwa dalam pelaksanaan upacara adat
merupakan suatu bentuk rasa syukur atas nikmat yang di berikan Tuhan, dengan
suatu harapan sebuah Kamulyan dalam
hidup si anak kelak. Di dalam kebudayaan jawa, kamulyan berarti mengertikan
awal dan akhir hidup atau wikan sangkan
paran. Kamulyaan di hayati dengan seluruh kesempurnaan cipta rasa karsa. Manusia sempurna berarti telah menghayati awal
akhir hidupnya. Orang menyebutnya mulih
mula mulanira atau manunggal. Manusia telah kembali manunggal dengan
penciptanya, manunggaling kawulo gusti. Manusia
smpurna meiliki kawicaksanaan dan
kemammpuan mengetahui peristiwa-peristiwa di luar jangkauan ruang dan waktu
atau kawaskithan. (Ciptoprawiro,1986,82).
UPACARA ADAT “MITONI”
Upacara
adat Mitoni diperkirakan muncul pada saat agama islam mulai merambah di
kerajaan Majapahit. Tersiarnya agama islam di Jawa bersamaan dengan kekacauan
di dalam kerajaan Majapahit yang menyebabkan kelemahan dan akhirnya runtuh sama
sekli. Pada masa itu kaum intelek Jawa makin banyak yang masuk agama islam, hal
itu menyebabkan timbulnya kitab-kitab
bahasa Jawa yang berisi tentang keislaman, dengan demikian islam yang tersebar
senantiasa mengalami penyesuaian dengan lingkungan peradaban dan kebudayaan
setempat. Hal inilah yang diduga kuat sebagai titk awal munculnya Upacara adat
Mitoni yang tersebar secara turun temurun hingga di desa jeruk.
Pelaksanaan upacara
adat Mitoni
Perlengkapan
yang dilakukan antara lain, kursi tempat
duduk calon ibu bayi, air kembang setaman yang di taruh di dalam bokor, dan tempurung kelapa atau siwur
yang dipergunakan untuk gayung
siraman. Selain itu, juga disiapkan boreh
yang digunakan untuk memboreh
calon ibu sebagai pengganti sabun, kendi yang dipergunakan untuk upacara mandi
paling akhir, telur, dua kelapa gading yang digambari tokoh Kamajaya dan Dewi
Ratih (Kamaratih), serta kain sebanyak tujuh buah.
a. Siraman
di laksanakan oleh para sesepuh atau yang dituakan. Para sesepuh tersebut
sejumlah tujuh orang, yakni ayah ibu dari anak yang sedang hamil, nenek, budhe, atau yang dituakan dalam
keluarga. Namun, sebaiknya yang memandikan adalah orang yang sudah memiliki
cucu. Siraman pertama dilaksanakan oleh ayah calon ibu, lalu dilanjutkan oleh
ibu dari sang calon ibu. Kemudian, dilanjutkan oleh ibu-ibu para pinisepuh.
b. Setelah
ketujuh sesepuh selesai menyirami si calon ibu, acara dilanjutkan dengan
pemakaian dua setengah meter kain putih yang dililitkan ketubuh calon ibu bayi.
Selanjutnya, upacara memasukkan telur ayam kampung kedalam kain calon ibu oleh
sang suami melewati perut hingga pecah. Hal ini dilaksanakan dengan harapan
calon ibu bayi itu dapat melahirkan dengan lancar dan lahir dengan mudah tanpa
aral melintang.
c. Selesai
memasukkan telur yang melewati perut sang calon ibu, acara dilanjutkan dengan
berganti kain panjang dan pakaian sebanyak tujuh kali. Dalam acara berganti
pakaian ini dilandasi dengan kain putih. Kain putih bermakna bahwa bayi yang
dilahirkan adalah suci, putih, dan bersih.
d. Pada
acara berganti pakaian sebanyak tujuh kali di persiapkan kebaya tujuh macam,
kain panjang batik atau jarik tujuh
macam, dua meter lawe, dan stagen. Salah satu dari jarik yang dipakai ada yang bercorak
Truntum. Pada saat acara ganti busana itu ada pertanyaan-pertanyaan yang
dilontarkan pemimpin upacara Mitoni “Ibu-ibu
menapa sampun pantes?” Dengan serentak disahut oleh ibu-ibu yang hadir “dereng pantes” Oleh karena itu belum
pantas acara ganti baju dan jarik
dilanjutkan dengan kebaya yang terakhir. Kain yang terakhir dikenakan adalah
kain batik motif Truntum. Selanjutnya, Ibu yang memimpin upacara mitoni
bertanya “ Ibu-ibu menapa sampun pantes?
” maka ibu-ibu pun berseru : “Wah, menika cocog sanget. . . pantes.” Sesudah acara berganti baju selesai, calon ibu
digandeng oleh perias masuk kedalam kamar untuk dirias. Baik calon ibu maupun
calon ayah mengenakan kain bermotif Truntum dan dilarang mengenakan perhiasan.
Kemudian, dilanjutkan dengan acara pemutusan tali lawe yang dilingkarkan diperut calon ibu. Pemutusan tali lawe ini dilakukan oleh calon ayah, dengan harapan
bahwa bayi yang dikandung akan dilahirkan dengan mudah, lancar, dan selamat.
e. Acara
selanjutnya adalah memasukkan dua kelapa gading didekat perut ibu yang hamil.
Kelapa itu diperosotkan dari atas kebawah dan diterima oleh calon nenek. Makna
dari acara ini adalah agar bayinya lahir dengan lancar dan mudah. Kemudian,
diteruskan dengan acara calon nenek dari pihak calon ibu menggendong kelapa
gading yang telah digambari tokoh Kamajaya dan Dewi Kamaratih bersama ibu
besan.
f. Calon
ayah memilih satu diantara dua buah kelapa gading yang bergambar tokoh Kamajaya
dan Dewi Kamaratih. Pada waktu memilih satu diantara buah kelapa gading , kedua
kelapa tersebut berada dalam posisi terbalik . hal ini dimaksudkan agar calon
ayah tidak bisa melihat gambar tokoh Kamajaya atau Kamaratih. Selanjutnya,
kelapa yang sudah dipilih itu dipecah atau dibelah. Apabila kelapa yang dipilih
bergambar tokoh Kamajaya, diharapkan bayi yang lahir adalah Laki-laki tampan
seperti Kamajaya. Apabila kelapa yang dipilih bergambar tokoh Dewi Kamaratih,
diharapkan bayi yang lahir adalah perempuan yang cantik
rupawan seperti halnya Dewi Kamaratih.
g. Upacara
selanjutnya adalah memilih nasi kuning yang terletak didalam Takir sang suami. Selain itu, dilanjutkan dengan
acara jual dawet dan rujak. Bagi pembeli yang menginginkan dawet atau rujak
cukup membayar dengan pecahan genting. Uang hasil penjualan, lalu dimasukkan
kedalam kwali yang terbuat dari tanah liat. Kwali yang berisi uang yang terbuat
dari pecahan genting itu, lalu dibawa kedekat pintu dan dipecah didepan pintu
tersebut. Makna dari upacara Pecah Kwali ini adalah diharapkan agar kelak
anaknya mendapatkan rezeki yang berlimpah dan selalu ikhlas beramal.
Subscribe to:
Comments (Atom)





