SEJARAH
GUNUNG SINDEN PERAWAN
Terletak di
Dusun Jambu desa Jeruk Kec. Bandar Kab. Pacitan, terdapat sebuah tempat yang
berbentuk sebuah Gunung. Pada tahun ± 1913, gunung ini di jadikan sebagai tempat
pemujaan, tepatnya di puncak gunung. Pada saat itu penduduk setempat meyakini
bahwa tempat tersebut bisa mengabulkan permohonan seseorang. Kemudian pada saat
itu juga banyak masyarakat yang berbondong-bondong menuju tempat ini untuk
melakukan ritual pemujaan, bahkan ada dari golongan bangsawan yang mendatangi
tempat ini. Dalam ritual ini, penduduk di haruskan membawa sejumlah peralatan
yang akan digunakan untuk sesaji, perlengkapan sesaji tersebut terdiri dari:
1.Tumpeng
yang terbuat dari nasi putih yang dicampur dengan air kunyit, sehingga
tumpeng tersebut berwarna kuning.
2. Ayam panggang
1 buah.
3. bunga 7 rupa,
4. sebuah
kemenyan,
5. uang receh
satu buah.
Proses berjalannya ritual :
1.
Tumpeng
diletakkan dibawah pohon dengan disertai pembakaran kemenyan sambil berdoa.
2.
Kemudian bunga 7
rupa tersebut dengan uang receh dimasukkan kedalam danau tersebut.
3.
Kemudian setelah
sesaji masuk ke dalam air danau, air bisa diambil dan diminum.
Kondisi tempat dari gunung tersebut
termasuk tinggi, bentuknya menyerupai tempurung kelapa
dengan luas ±10meter².
Gunung tersebut terdapat dengan banyak semak dan satu pohon beringin tua
yang terletak di tepi kubah yang
tingginya mencapai ± 5 meter. Pohon itu digunakan untuk menempatkan sesaji
dan tempat meminta berkah kepada sang kuasa. Biasanya hari yang baik untuk
meminta berkah konon pada hari selasa kliwon wuku landep. Tempat ini hanya berupa sebuah pohon beringin
yang terletak disamping dan ditengahnya terdapat kubah yang luasnya
sekitar lima meter. Dengan kedalaman ± 100 meter.
Masyarakat disini terus meyakini
dikenal sebagai tempat pemujaan selama kurang lebih dua puluh tujuh tahun.
Pada tahun 1940 seorang ulama atau tokoh agama yang
bernama ki ageng Haryodiningrat yang berasal dari Tengger Probolinggo Jawa Timur,
beliau datang ke tempat ini dengan
tujuan untuk menemui
istrnya yang kebetulan istrinya berada di desa ini. Karena ulama tersebut
mengetahui bahwa didesa ini ada tempat pemujaan, maka ki ageng Maru Boyo
mendatangi tetua yang menjadi Juru Kunci dari tempat pemujaan tersebut. Ia menanyakan
tentang apa kegunaan dari ritual tersebut dan mengapa ditempatkan di gunung
tersebut. Kemudian juru kunci menerangkan bahwa gunung tersebut berguna untuk
keselamatan desa dan penduduknya. Konon kubah/danau yang ada di gunung itu
merupakan tempat raksasa mandi pada setiap malam
Jum’at Wage dengan Wuku “Kuningan”.
Raksasa tersebut sering mandi di kubah/danau tiga warna yang berada di
puncak gunung Sinden Perawan. Yang
berwarna putih kehijauan sering digunakan saat raksasa tersebut masih perjaka.
Kemudian yang berwarna hijau tua digunakan raksasa pada saat raksasa tersebut
sudah memiliki istri. Sedangkan yang berwarna biru digunakan raksasa pada saat
raksasa sudah menjadi duda.
Konon ketiga air warna tersebut memiliki khasiat yang
berbeda. air tersebut diyakini sebagai berkah yang maha kuasa dan sering
dipakai orang. Warna biru untu kemulyaan, putih kehijauan untuk penyembuhan
penyakit, sedangkan untuk hijau tua untuk kekayaan dunia.
Ki ageng Haryodiningrat tidak percaya dengan hal itu, maka ia segera
merobohkan pohon tersebut dan menimbunkannya kubah/danau tersebut. Sehari kemudian kubah itu mengeluarkan air
yang sangat besar hingga menggenangi desa. Masyarakat mengungsi dan berbondong-bondong ke
atas bukit cagaran yang letaknya disebelah selatan gunung Sinden Perawan. Ki ageng Haryodiningrat juga pergi ke Bukit Cagaran. Pada malam pertama
setelah mengungsi, Ki ageng
bermimpi bahwa,
jika penduduk ingin air dari kawah/kubah itu berhenti mengeluarkan
air, maka mereka harus menyerahkan tumbal berupa sinden
perawan dan kambing kendit.
Tak lama kemudian, masyarakat memenuhi tumbal itu
yang kebetulan di desa ini terdapat Perawan dan kambing kendit, yang kemudian
Kepala desa memohon kepada anak perawan ini unuk berkorban demi desa . Maka
sinden itu mati beserta kambing yang dibawanya masuk kedalam danau. Air surut dalam waktu ±5
jam setelsh tumbal di masukkan kedalam danau. Dari cerita tersebut penduduk menamai gunung tersebut dengan nama Gunung Sinden Perawan. Nama
ini di ambil dari nama tumbal tersebut. Setelah kejadian tersebut, akhirnya
kembali ke desa dan menata kembali desa ini dan beraktivitas seperti dulu kala,
namun sudah tidak ada lagi penduduk yang melakukan rital ke gunung Sinden
Perawan, karena Ki Ageng Haryodiningrat telah memberikan penyuluhan kepada
semua warga dan warga pun percaya kepada beliau.
No comments:
Post a Comment