Thursday, January 17, 2013

local history


SEJARAH GUNUNG SINDEN PERAWAN

Terletak di Dusun Jambu desa Jeruk Kec. Bandar Kab. Pacitan, terdapat sebuah tempat yang berbentuk sebuah Gunung. Pada tahun ± 1913, gunung ini di jadikan sebagai tempat pemujaan, tepatnya di puncak gunung. Pada saat itu penduduk setempat meyakini bahwa tempat tersebut bisa mengabulkan permohonan seseorang. Kemudian pada saat itu juga banyak masyarakat yang berbondong-bondong menuju tempat ini untuk melakukan ritual pemujaan, bahkan ada dari golongan bangsawan yang mendatangi tempat ini. Dalam ritual ini, penduduk di haruskan membawa sejumlah peralatan yang akan digunakan untuk sesaji, perlengkapan sesaji tersebut terdiri dari:
1.Tumpeng yang terbuat dari nasi putih yang dicampur dengan air kunyit,         sehingga tumpeng tersebut berwarna kuning.
2. Ayam panggang 1 buah.
3. bunga 7 rupa,
4. sebuah kemenyan,
5. uang receh satu buah.

Proses berjalannya ritual :
1.    Tumpeng diletakkan dibawah pohon dengan disertai pembakaran kemenyan sambil berdoa.
2.    Kemudian bunga 7 rupa tersebut dengan uang receh dimasukkan kedalam danau tersebut.
3.    Kemudian setelah sesaji masuk ke dalam air danau, air bisa diambil dan       diminum.

            Kondisi tempat dari gunung tersebut termasuk tinggi, bentuknya menyerupai tempurung kelapa dengan luas ±10meter². Gunung tersebut terdapat dengan banyak semak dan satu pohon beringin tua yang terletak di tepi kubah yang tingginya mencapai ± 5 meter. Pohon itu digunakan untuk menempatkan sesaji dan tempat meminta berkah kepada sang kuasa. Biasanya hari yang baik untuk meminta berkah konon pada hari selasa kliwon wuku landep.  Tempat ini hanya berupa sebuah pohon beringin yang terletak disamping dan ditengahnya terdapat kubah yang luasnya sekitar lima meter. Dengan kedalaman ± 100 meter.
          Masyarakat disini terus meyakini dikenal sebagai tempat pemujaan selama kurang lebih dua puluh tujuh tahun.
Pada tahun 1940 seorang ulama atau tokoh agama yang bernama ki ageng Haryodiningrat yang berasal dari Tengger Probolinggo Jawa Timur, beliau datang ke tempat ini dengan tujuan untuk  menemui istrnya yang kebetulan istrinya berada di desa ini. Karena ulama tersebut mengetahui bahwa didesa ini ada tempat pemujaan, maka ki ageng Maru Boyo mendatangi tetua yang menjadi Juru Kunci dari tempat pemujaan tersebut. Ia menanyakan tentang apa kegunaan dari ritual tersebut dan mengapa ditempatkan di gunung tersebut. Kemudian juru kunci menerangkan bahwa gunung tersebut berguna untuk keselamatan desa dan penduduknya. Konon kubah/danau yang ada di gunung itu merupakan tempat raksasa mandi pada setiap malam Jum’at Wage dengan Wuku “Kuningan”.
Raksasa tersebut sering mandi di kubah/danau tiga warna yang berada di puncak gunung Sinden Perawan. Yang berwarna putih kehijauan sering digunakan saat raksasa tersebut masih perjaka. Kemudian yang berwarna hijau tua digunakan raksasa pada saat raksasa tersebut sudah memiliki istri. Sedangkan yang berwarna biru digunakan raksasa pada saat raksasa sudah menjadi duda.
Konon ketiga air warna tersebut memiliki khasiat yang berbeda. air tersebut diyakini sebagai berkah yang maha kuasa dan sering dipakai orang. Warna biru untu kemulyaan, putih kehijauan untuk penyembuhan penyakit, sedangkan untuk hijau tua untuk kekayaan dunia.
Ki ageng Haryodiningrat tidak percaya dengan hal itu, maka ia segera merobohkan pohon tersebut dan menimbunkannya kubah/danau tersebut. Sehari kemudian kubah itu mengeluarkan air yang sangat besar hingga menggenangi desa. Masyarakat mengungsi dan berbondong-bondong ke atas bukit cagaran yang letaknya disebelah selatan gunung Sinden Perawan. Ki ageng Haryodiningrat juga pergi ke Bukit Cagaran. Pada malam pertama setelah mengungsi, Ki ageng bermimpi bahwa, jika penduduk ingin air dari kawah/kubah itu berhenti mengeluarkan air, maka mereka harus menyerahkan tumbal berupa sinden perawan dan kambing kendit.
Tak lama kemudian, masyarakat memenuhi tumbal itu yang kebetulan di desa ini terdapat Perawan dan kambing kendit, yang kemudian Kepala desa memohon kepada anak perawan ini unuk berkorban demi desa . Maka sinden itu mati beserta kambing yang dibawanya masuk kedalam danau. Air surut dalam waktu ±5 jam setelsh tumbal di masukkan kedalam danau. Dari cerita tersebut penduduk menamai gunung tersebut dengan nama Gunung Sinden  Perawan. Nama ini di ambil dari nama tumbal tersebut. Setelah kejadian tersebut, akhirnya kembali ke desa dan menata kembali desa ini dan beraktivitas seperti dulu kala, namun sudah tidak ada lagi penduduk yang melakukan rital ke gunung Sinden Perawan, karena Ki Ageng Haryodiningrat telah memberikan penyuluhan kepada semua warga dan warga pun percaya kepada beliau.

No comments:

Post a Comment