Thursday, January 17, 2013

ilmu budaya dasar


Sinopsis
Teletak di Desa Jeruk Kab. Pacitan, terlahir sebuah Upacara adat yang disebut “Mitoni”,Upacara adat Mitoni berasal dari kata pitu yang berarti tujuh.  Mitoni merupakan upacara adat untuk memperingati usia kandungan bagi ibu hamil yang telah menginjak usia tujuh bulan. Upacara adat Mitoni merupakan bentuk sarana sosialisasi bagi warga masyarakat tradisional khususnya. Penyelenggaraan upacara itu penting bagi pembinaan sosial budaya bagi warga masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat Jawa percaya bahwa dalam pelaksanaan upacara adat merupakan suatu bentuk rasa syukur atas nikmat yang di berikan Tuhan, dengan suatu harapan sebuah Kamulyan dalam hidup si anak kelak. Di dalam kebudayaan jawa, kamulyan berarti mengertikan awal dan akhir hidup atau wikan sangkan paran. Kamulyaan di hayati dengan seluruh kesempurnaan cipta rasa karsa. Manusia sempurna berarti telah menghayati awal akhir hidupnya. Orang menyebutnya mulih mula mulanira atau manunggal. Manusia telah kembali manunggal dengan penciptanya, manunggaling kawulo gusti. Manusia smpurna meiliki kawicaksanaan dan kemammpuan mengetahui peristiwa-peristiwa di luar jangkauan ruang dan waktu atau kawaskithan. (Ciptoprawiro,1986,82).











UPACARA ADAT “MITONI”
Upacara adat Mitoni diperkirakan muncul pada saat agama islam mulai merambah di kerajaan Majapahit. Tersiarnya agama islam di Jawa bersamaan dengan kekacauan di dalam kerajaan Majapahit yang menyebabkan kelemahan dan akhirnya runtuh sama sekli. Pada masa itu kaum intelek Jawa makin banyak yang masuk agama islam, hal itu menyebabkan  timbulnya kitab-kitab bahasa Jawa yang berisi tentang keislaman, dengan demikian islam yang tersebar senantiasa mengalami penyesuaian dengan lingkungan peradaban dan kebudayaan setempat. Hal inilah yang diduga kuat sebagai titk awal munculnya Upacara adat Mitoni yang tersebar secara turun temurun hingga di desa jeruk.
Pelaksanaan upacara adat Mitoni
Perlengkapan  yang dilakukan antara lain, kursi tempat duduk calon ibu bayi, air kembang setaman yang di taruh di dalam bokor, dan tempurung kelapa atau siwur  yang  dipergunakan untuk gayung siraman. Selain itu, juga disiapkan boreh yang digunakan untuk memboreh calon ibu sebagai pengganti sabun, kendi yang dipergunakan untuk upacara mandi paling akhir, telur, dua kelapa gading yang digambari tokoh Kamajaya dan Dewi Ratih (Kamaratih), serta kain sebanyak tujuh buah.
a.       Siraman di laksanakan oleh para sesepuh atau yang dituakan. Para sesepuh tersebut sejumlah tujuh orang, yakni ayah ibu dari anak yang sedang hamil, nenek, budhe, atau yang dituakan dalam keluarga. Namun, sebaiknya yang memandikan adalah orang yang sudah memiliki cucu. Siraman pertama dilaksanakan oleh ayah calon ibu, lalu dilanjutkan oleh ibu dari sang calon ibu. Kemudian, dilanjutkan oleh ibu-ibu para pinisepuh.
b.      Setelah ketujuh sesepuh selesai menyirami si calon ibu, acara dilanjutkan dengan pemakaian dua setengah meter kain putih yang dililitkan ketubuh calon ibu bayi. Selanjutnya, upacara memasukkan telur ayam kampung kedalam kain calon ibu oleh sang suami melewati perut hingga pecah. Hal ini dilaksanakan dengan harapan calon ibu bayi itu dapat melahirkan dengan lancar dan lahir dengan mudah tanpa aral melintang.
c.       Selesai memasukkan telur yang melewati perut sang calon ibu, acara dilanjutkan dengan berganti kain panjang dan pakaian sebanyak tujuh kali. Dalam acara berganti pakaian ini dilandasi dengan kain putih. Kain putih bermakna bahwa bayi yang dilahirkan adalah suci, putih, dan bersih.
d.      Pada acara berganti pakaian sebanyak tujuh kali di persiapkan kebaya tujuh macam, kain panjang batik atau jarik tujuh macam, dua meter lawe, dan stagen. Salah satu dari jarik yang dipakai ada yang bercorak Truntum. Pada saat acara ganti busana itu ada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pemimpin upacara Mitoni “Ibu-ibu menapa sampun pantes?” Dengan serentak disahut oleh ibu-ibu yang hadir “dereng pantes” Oleh karena itu belum pantas acara ganti baju dan jarik dilanjutkan dengan kebaya yang terakhir. Kain yang terakhir dikenakan adalah kain batik motif Truntum. Selanjutnya, Ibu yang memimpin upacara mitoni bertanya “ Ibu-ibu menapa sampun pantes? ”  maka ibu-ibu pun berseru : “Wah, menika cocog sanget. . . pantes.”  Sesudah acara berganti baju selesai, calon ibu digandeng oleh perias masuk kedalam kamar untuk dirias. Baik calon ibu maupun calon ayah mengenakan kain bermotif Truntum dan dilarang mengenakan perhiasan. Kemudian, dilanjutkan dengan acara pemutusan tali lawe yang dilingkarkan diperut calon ibu. Pemutusan tali lawe  ini dilakukan oleh calon ayah, dengan harapan bahwa bayi yang dikandung akan dilahirkan dengan mudah, lancar, dan selamat.
e.       Acara selanjutnya adalah memasukkan dua kelapa gading didekat perut ibu yang hamil. Kelapa itu diperosotkan dari atas kebawah dan diterima oleh calon nenek. Makna dari acara ini adalah agar bayinya lahir dengan lancar dan mudah. Kemudian, diteruskan dengan acara calon nenek dari pihak calon ibu menggendong kelapa gading yang telah digambari tokoh Kamajaya dan Dewi Kamaratih bersama ibu besan.
f.       Calon ayah memilih satu diantara dua buah kelapa gading yang bergambar tokoh Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Pada waktu memilih satu diantara buah kelapa gading , kedua kelapa tersebut berada dalam posisi terbalik . hal ini dimaksudkan agar calon ayah tidak bisa melihat gambar tokoh Kamajaya atau Kamaratih. Selanjutnya, kelapa yang sudah dipilih itu dipecah atau dibelah. Apabila kelapa yang dipilih bergambar tokoh Kamajaya, diharapkan bayi yang lahir adalah Laki-laki tampan seperti Kamajaya. Apabila kelapa yang dipilih bergambar tokoh Dewi Kamaratih, diharapkan bayi yang lahir adalah perempuan yang cantik rupawan seperti halnya Dewi Kamaratih.
g.      Upacara selanjutnya adalah memilih nasi kuning yang terletak didalam Takir  sang suami. Selain itu, dilanjutkan dengan acara jual dawet dan rujak. Bagi pembeli yang menginginkan dawet atau rujak cukup membayar dengan pecahan genting. Uang hasil penjualan, lalu dimasukkan kedalam kwali yang terbuat dari tanah liat. Kwali yang berisi uang yang terbuat dari pecahan genting itu, lalu dibawa kedekat pintu dan dipecah didepan pintu tersebut. Makna dari upacara Pecah Kwali ini adalah diharapkan agar kelak anaknya mendapatkan rezeki yang berlimpah dan selalu ikhlas beramal.

No comments:

Post a Comment