Sinopsis
Teletak
di Desa Jeruk Kab. Pacitan, terlahir sebuah Upacara adat yang disebut “Mitoni”,Upacara
adat Mitoni berasal dari kata pitu
yang berarti tujuh. Mitoni merupakan
upacara adat untuk memperingati usia kandungan bagi ibu hamil yang telah
menginjak usia tujuh bulan. Upacara adat Mitoni merupakan bentuk sarana
sosialisasi bagi warga masyarakat tradisional khususnya. Penyelenggaraan
upacara itu penting bagi pembinaan sosial budaya bagi warga masyarakat yang
bersangkutan. Masyarakat Jawa percaya bahwa dalam pelaksanaan upacara adat
merupakan suatu bentuk rasa syukur atas nikmat yang di berikan Tuhan, dengan
suatu harapan sebuah Kamulyan dalam
hidup si anak kelak. Di dalam kebudayaan jawa, kamulyan berarti mengertikan
awal dan akhir hidup atau wikan sangkan
paran. Kamulyaan di hayati dengan seluruh kesempurnaan cipta rasa karsa. Manusia sempurna berarti telah menghayati awal
akhir hidupnya. Orang menyebutnya mulih
mula mulanira atau manunggal. Manusia telah kembali manunggal dengan
penciptanya, manunggaling kawulo gusti. Manusia
smpurna meiliki kawicaksanaan dan
kemammpuan mengetahui peristiwa-peristiwa di luar jangkauan ruang dan waktu
atau kawaskithan. (Ciptoprawiro,1986,82).
UPACARA ADAT “MITONI”
Upacara
adat Mitoni diperkirakan muncul pada saat agama islam mulai merambah di
kerajaan Majapahit. Tersiarnya agama islam di Jawa bersamaan dengan kekacauan
di dalam kerajaan Majapahit yang menyebabkan kelemahan dan akhirnya runtuh sama
sekli. Pada masa itu kaum intelek Jawa makin banyak yang masuk agama islam, hal
itu menyebabkan timbulnya kitab-kitab
bahasa Jawa yang berisi tentang keislaman, dengan demikian islam yang tersebar
senantiasa mengalami penyesuaian dengan lingkungan peradaban dan kebudayaan
setempat. Hal inilah yang diduga kuat sebagai titk awal munculnya Upacara adat
Mitoni yang tersebar secara turun temurun hingga di desa jeruk.
Pelaksanaan upacara
adat Mitoni
Perlengkapan
yang dilakukan antara lain, kursi tempat
duduk calon ibu bayi, air kembang setaman yang di taruh di dalam bokor, dan tempurung kelapa atau siwur
yang dipergunakan untuk gayung
siraman. Selain itu, juga disiapkan boreh
yang digunakan untuk memboreh
calon ibu sebagai pengganti sabun, kendi yang dipergunakan untuk upacara mandi
paling akhir, telur, dua kelapa gading yang digambari tokoh Kamajaya dan Dewi
Ratih (Kamaratih), serta kain sebanyak tujuh buah.
a. Siraman
di laksanakan oleh para sesepuh atau yang dituakan. Para sesepuh tersebut
sejumlah tujuh orang, yakni ayah ibu dari anak yang sedang hamil, nenek, budhe, atau yang dituakan dalam
keluarga. Namun, sebaiknya yang memandikan adalah orang yang sudah memiliki
cucu. Siraman pertama dilaksanakan oleh ayah calon ibu, lalu dilanjutkan oleh
ibu dari sang calon ibu. Kemudian, dilanjutkan oleh ibu-ibu para pinisepuh.
b. Setelah
ketujuh sesepuh selesai menyirami si calon ibu, acara dilanjutkan dengan
pemakaian dua setengah meter kain putih yang dililitkan ketubuh calon ibu bayi.
Selanjutnya, upacara memasukkan telur ayam kampung kedalam kain calon ibu oleh
sang suami melewati perut hingga pecah. Hal ini dilaksanakan dengan harapan
calon ibu bayi itu dapat melahirkan dengan lancar dan lahir dengan mudah tanpa
aral melintang.
c. Selesai
memasukkan telur yang melewati perut sang calon ibu, acara dilanjutkan dengan
berganti kain panjang dan pakaian sebanyak tujuh kali. Dalam acara berganti
pakaian ini dilandasi dengan kain putih. Kain putih bermakna bahwa bayi yang
dilahirkan adalah suci, putih, dan bersih.
d. Pada
acara berganti pakaian sebanyak tujuh kali di persiapkan kebaya tujuh macam,
kain panjang batik atau jarik tujuh
macam, dua meter lawe, dan stagen. Salah satu dari jarik yang dipakai ada yang bercorak
Truntum. Pada saat acara ganti busana itu ada pertanyaan-pertanyaan yang
dilontarkan pemimpin upacara Mitoni “Ibu-ibu
menapa sampun pantes?” Dengan serentak disahut oleh ibu-ibu yang hadir “dereng pantes” Oleh karena itu belum
pantas acara ganti baju dan jarik
dilanjutkan dengan kebaya yang terakhir. Kain yang terakhir dikenakan adalah
kain batik motif Truntum. Selanjutnya, Ibu yang memimpin upacara mitoni
bertanya “ Ibu-ibu menapa sampun pantes?
” maka ibu-ibu pun berseru : “Wah, menika cocog sanget. . . pantes.” Sesudah acara berganti baju selesai, calon ibu
digandeng oleh perias masuk kedalam kamar untuk dirias. Baik calon ibu maupun
calon ayah mengenakan kain bermotif Truntum dan dilarang mengenakan perhiasan.
Kemudian, dilanjutkan dengan acara pemutusan tali lawe yang dilingkarkan diperut calon ibu. Pemutusan tali lawe ini dilakukan oleh calon ayah, dengan harapan
bahwa bayi yang dikandung akan dilahirkan dengan mudah, lancar, dan selamat.
e. Acara
selanjutnya adalah memasukkan dua kelapa gading didekat perut ibu yang hamil.
Kelapa itu diperosotkan dari atas kebawah dan diterima oleh calon nenek. Makna
dari acara ini adalah agar bayinya lahir dengan lancar dan mudah. Kemudian,
diteruskan dengan acara calon nenek dari pihak calon ibu menggendong kelapa
gading yang telah digambari tokoh Kamajaya dan Dewi Kamaratih bersama ibu
besan.
f. Calon
ayah memilih satu diantara dua buah kelapa gading yang bergambar tokoh Kamajaya
dan Dewi Kamaratih. Pada waktu memilih satu diantara buah kelapa gading , kedua
kelapa tersebut berada dalam posisi terbalik . hal ini dimaksudkan agar calon
ayah tidak bisa melihat gambar tokoh Kamajaya atau Kamaratih. Selanjutnya,
kelapa yang sudah dipilih itu dipecah atau dibelah. Apabila kelapa yang dipilih
bergambar tokoh Kamajaya, diharapkan bayi yang lahir adalah Laki-laki tampan
seperti Kamajaya. Apabila kelapa yang dipilih bergambar tokoh Dewi Kamaratih,
diharapkan bayi yang lahir adalah perempuan yang cantik
rupawan seperti halnya Dewi Kamaratih.
g. Upacara
selanjutnya adalah memilih nasi kuning yang terletak didalam Takir sang suami. Selain itu, dilanjutkan dengan
acara jual dawet dan rujak. Bagi pembeli yang menginginkan dawet atau rujak
cukup membayar dengan pecahan genting. Uang hasil penjualan, lalu dimasukkan
kedalam kwali yang terbuat dari tanah liat. Kwali yang berisi uang yang terbuat
dari pecahan genting itu, lalu dibawa kedekat pintu dan dipecah didepan pintu
tersebut. Makna dari upacara Pecah Kwali ini adalah diharapkan agar kelak
anaknya mendapatkan rezeki yang berlimpah dan selalu ikhlas beramal.
No comments:
Post a Comment